Penyelesaian Konflik Sosial

Manajemen Konflik

Manajemen konflik adalah suatu cara untuk mengelola konflik agar tidak menimbulkan perpecahan.

 

Metode Penyelesaian Konflik

Pada pengendalian konflik dalam kaitannya dengan pengelolaan konflik, Hodge dan Anthony (1991) memberikan gambaran melalui metode penyelesaian konflik (conflict resolution method).

  1. Metode dengan menggunakan paksaan. Dalam hal ini, tiap orang menggunakan kekuasaan dan kewenangannya agar konflik dapat diredam atau dipadamkan.
  2. Metode penghalusan (smoothing). Melalui metode ini, dimungkinkan pula dilakukan cara-cara kompromi dalam menyelesaikan konflik sehingga dapat disepakati penyelesaian yang terbaik.
  3. Metode dengan cara demokratis. Artinya, memberikan peluang kepada tiap pihak untuk mengemukakan pendapat dan keyakinan akan kebenaran pendapatnya masing-masing sehingga dapat diterima oleh kedua belah pihak.

 

Strategi Penyelesaian Konflik menurut Cribbin (1985)

  1. Strategi yang dipandang tidak efektif: paksaan; penundaan; bujukan; koalisi; tawar-menawar distributif.
  2. Strategi yang dipandang lebih efektif: koeksistensi damai; mediasi.
  3. Strategi yang dipandang paling efektif: tujuan sekutu besar; tawar-menawar integratif.

 

Cara Pengendalian Konflik menurut Nasikun (1993)

  1. Konsoliasi, pengendalian konflik dengan cara ini akan terwujud melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan tumbuhnya pola-pola diskusi dan pengambilan keputusan.
  2. Mediasi, pengendalian ini dimaksudkan agar pihak-pihak yang berkonflik sepakat untuk menunjuk pihak ketiga yang memberikan nasihat yang berkaitan dengan penyelesaian terbaik terhadap pertentangan yang terjadi.
  3. Perwasitan (arbitrase), pengendalian ini dimaksudkan agar pihak-pihak yang berkonflik sepakat untuk menerima pihak ketiga yang akan berperan dalam menyelesaikan konflik. Cara perwasitan mengharuskan pihak-pihak yang berkonflik untuk menerima keputusan-keputusan yang diambil oleh pihak ketiga.

 

Proses-Proses Akomodasi untuk Menyelesaikan Konflik

  1. Kompromi, kedua belah pihak yang bertikai saling mengalah.
  2. Toleransi, sikap saling menghargai dan menghormati pendirian pihak lain.
  3. Konversi, salah satu pihak bersedai mengalah dan mau menerima pendirian pihak lain.
  4. Koersi, penyelesaian konflik melalui suatu proses yang dilakukan secara paksa.
  5. Mediasi, penyelesaian konflik dengan jalan mengundang pihak ketiga yang netral sebagai penasihat.
  6. Arbitrase, penyelesaian konflik melalui pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak yang bertikai.
  7. Konsiliasi, usaha untuk mempertemukan pihak-pihak yang bertikai untuk berunding .
  8. Ajudikasi, penyelesaian perkara atau pangkal pertentangan di pengadilan.
  9. Segregasi, upaya saling memisahkan diri dan menghindar untuk mengurangi ketegangan dan menghilangkan konflik.
  10. Gencatan senjata, upaya penangguhan permusuhan atau peperangan sambil mengusahakan penyelesaian konflik.